Bg

Berita - IAIN Surakarta

Menggunakan Rasionalitas Umat Islam Bangkit dari Kuburnya

10 April 2019

Hidup adalah kereta sedangkan berfikir adalah gerakannya. Tanpa berfikir hidup tidak akan menjadi bermakna, karena kemandekan akal kita untuk berfikir. Rasionalitas merupakan piranti yang sangat urgen bagi kelangsungan hidup kita. Bisa kita ambil dari tokoh besar Islam yaitu Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang mengatakan bahwa “Kutantang kebenaran, dengan kebenaran, demi tujuan kebenaran.” Hal ini di dukung atau di kuatkan oleh Mohammad Arkoun yaitu “Rasio berselisih dengan rasio melampui perantara rasio demi kepentingan rasio”. Dengan adanya kedua pernyataan tersebut bahwa kebenaran dan rasionalitas merupakan hal yang penting di punya oleh seluruh umat muslim yang ada. Hal ini bukan saja tanggung jawab para pembesar atau tokoh-tokoh Islam saja yang saat ini ada.
        Problem rasionalitas adalah problem yang akut dalam dunia Islam. Tidak menutup kemungkinan sebab hal ini menjadi garapan yang sering terlupakan oleh para pengusung tradisi, sehingga terjadi kemandegan produktivitas tradisi pemikiran yang rasional, malahan tidak menutup kemungkinan menjadikan produk yang irasional.
Ketika kita melihat sejarah berdasarkan analisis sejarawan Islam pernah mengalami masa-masa kejayaan yang sangat gemilang, terutama di bidang intelektual Islam. Tokoh-tokoh yang sering kali kita dengarkan adalah Ibnu Sina,Ibnu Arabi, Ibnu Khaldun, dan masih banyak tokoh yang ada di belakang tersebut. Saya tidak bisa langsung menyebut bahwa Islam sekarang sedang dalam keterpurukan atau dalam kemandegan peradaban dan khasanah intelektual. Namun alangkah baiknya jika kita melanjutkan sifat-sifat para intelektual muslim. Untuk melakukan itu tidaklah mudah, perlu adanya proses yang panjang. Mahasiswa-lah yang menjadi penerus estafet pemikir-pemikir masa depan. Kita sebagai mahasiswa perlu perbaiki diri, introspeksi diri, berlajar merasionalkan sesuatu supaya umat Islam tidak tertinggal oleh orang-orang barat. Sebagai akademisi kita perlu membangunkan umat dari tidur panjangnya supaya tidak jalan di tempat dalam suatu peradaban lama. Umat Islam harus keluar dari zona nyamannya dan menciptakan peradaban dengan menggunakan rasionalitas.
Rasio merupakan sebuah anugrah bagi umat manusia. Yang penting bagaimana kemampuan kita memaksimalkan anugrah tersebut dari tuhan kepada seluruh manusia. Rasio juga bisa digunakan sebagai perangkat istimbath, analisa dan produsen sebagai pemikiran serta pengawas produk pemikiran tersebut. Apabila produk pemikiran yang tidak realistis, maka kita harus melakukan telaah ulang secara terus-menerus terhadap produk pemikiran kita, agara tidak terjadi perselisihan antara rasio dan relitas.
Dalam melakukan analisis sebuah data atau produk pemikiran tidak boleh hanya keinginan sendiri tanpa menggunakan metodologi. Penting untuk diperhatikan supaya dalam melakukan analisis sesuai kaidah dan proses yang sudah ditetapkan, sehingga menghasilkan analisis yang benar dan tidak keliru.
Wacana-wacana pembaharuan keagamaan perlu di lakukan dengan menggunakan rasionalitas. Hal ini menjadi sebuah keharusan jika kita menelisik lebih jauh apa kelemahan-kelemahan umat Islam. Tindakan ini perlu dilakukan karena mengingat bahwa kita perlu memperbaiki diri dan menumbuhkan rasionalitas dalam diri kita. Supaya peradaban Islam yang biasa dikatan peradaban timur tidak dikalahkan oleh peradaban barat.

Farkhan Fuadi

Mahasiswa Filsafat