Bg

Berita - IAIN Surakarta

FUD Mengadakan Belajar Menulis bersama Redaktur mojok.co

25 Juli 2019

FUD – Bertempat di ruang mini teather Pusat Pengembangan Bahasa IAIN Surakarta Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IAIN Surakarta menggelar Workshop Pengembangan Soft Skill bagi Mahasiswa (23/7).

Acara tersebut mengambil tema “Pelatihan Menulis di Media Online”. Syafawi Ahmad Qadzafi, redaktur mojok.co, didapuk menjadi narasumber acara tersebut.

Dalam sambutannya, Ari Hikmawati (Wakil Dekan III FUD) menyampaikan pentingnya mahasiswa memiliki kemampuan menulis. Tidak hanya menulis artikel, makalah, atau karya ilmiah tapi juga menghasilkan tulisan populer untuk dimuat di media online. Kenapa media online? Tentu saja karena mahasiswa harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan era digital. Bisa menembus media cetak adalah hal bagus, namun menulis di media online adalah ciri mahasiswa kekinian yang peka zaman.

Oleh karena itu, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah menghadirkan Syafawi Ahmad Qadzafi untuk berbagi ilmu kepenulisan kepada mahasiswa FUD. Lelaki yang akrab disapa Dafi itu telah menerbitkan dua buku, yakni Dari Bilik Pesantren dan Islam Kita Nggak Kemana-Mana Kok Disuruh Kembali. Alumni S2 Media and Cultural Studies, Universitas Gadjah Mada itu sebelumnya pernah bekerja di Penerbit Indie Book Corner (IBC) sebagai pemimpin redaksi dan di tirto.id sebagai redaktur.

Pada acara yang dihadiri 80 peserta itu Dafi memaparkan sejumlah masalah yang sering dihadapi penulis, antara lain: gagasan terlalu luas, ingin membicarakan banyak hal, tidak mood, terlalu ingin menulis seperti penulis idola, merasa belum banyak baca, dan malas. Bagi Dafi, kondisi ketika penulis merasa tidak mood sebetulnya adalah karena penulis tidak atau belum memiliki data yang memiliki ikatan emosi dengan penulis. Maka solusi yang ditawarkan adalah jalan-jalan, membaca buku yang disuka, ngopi, diskusi, dsb.

Salah seorang peserta pelatihan bertanya kepada narasumber: bagaiamana cara memulai tulisan? Menanggapi pertanyaan itu Dafi mengatakan tulislah sesuatu yang dekat, dekat secara ruang dan dekat secara waktu. Dafi juga berpesan esai yang baik adalah esai yang fokus dan spesifik.

Selain itu, Dafi juga menjabarkan sejumlah kesalahan penulis pemula: ingin terlihat lebih pintar dari yang sebenarnya, menggunakan bahasa yang “dakik-dakik”, kebanyakan referensi, kuantitas sumber tidak berbanding lurus dengan kualitas tulisan, menjadi editor dan penulis pada waktu yang bersamaan, dan tidak memberi jarak dengan tulisannya sendiri ketika selesai menulis.

Jelang akhir acara, peserta diminta untuk praktek menulis langsung. Mereka diminta menulis sesuatu yang dekat dengan dengan mereka. Beberapa peserta lantas diminta untuk membacakan tulisannya dan kemudian direspons oleh Dafi.