Bg

Berita - IAIN Surakarta

Mental Iman dan Corona

9 Maret 2020

MENTAL IMAN DAN CORONA

Karya :

Kholilurrohman

Dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah

IAIN Surakarta

Ada tiga hal yang memang sudah ditulis Allah di lauhil mahfudz sana, yakni: siapa jodohnya, seberapa besar rizkinya, dan kapan matinya. Maka tidak heran ditemukan ada wanita cantik, suaminya tidak ganteng. Atau ada laki-laki ganteng, istrinya tidak cantik. Idealnya, versi manusia, laki-laki ganteng dapat istri cantik. Tetapi bagi Allah belum tentu yang ganteng bertemu cantik menjadi ideal. Bukankah mereka yang ganteng dan canti bertemu dalam pernikahan malah cerai? Tidak sedikit kejadian seseorang meski sudah bekerja dengan keras, tetapi uang tidak terkumpul secara signifikan. Tiap kali kumpul, justru di situ ada kewajiban yang harus ditunaikan, seperti: membiayai pengobatan, biaya sekolah atau saudara dekat hutang. Begitu juga kematian. Kematian itu pasti tetapi penyebabnya beranekaragam, seperti: karena penyakit jantung, gagal ginjal, tabrakan/kecelakaan, dibunuh sampai karena terkena virus corona.

Mental iman adalah salah satu bentuk keyakinan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya. Salah satu cabangnya adalah bahwa Allah, Dzat yang menghidupkan dan mematikan. Lebih jauh Allah, Dzat yang memberi rizki seluruh makhluk yang merayap / hidup di bumi. Artinya, seseorang yang mental imannya tangguh / sempurna ia tidak mengkhawatirkan akan terjadinya sesuatu. Bahwa tiap ada penyakit perlu dicari obatnya, itu dipahami sebagai bagian ikhtiar. Selebihnya pasrah. Sebagaimana yang pernah dicontohkan Abu Bakar yang ketika ditanya untuk dicarikan dokter, Abu Bakar menjawab, dia pun juga mati. Tidak selang lama, dokter itu pun mati, lalu disusul dengan kematian Abu Bakar.

Di sisi lain ada virus corona yang ‘mematikan’ siapapun yang terkena. Di sini perlu dipahami bagi seseorang yang memang tidak mengetahui tentang karakter virus corona cukup melakukan apa yang disarankan oleh ahli virus (dokter/ilmuwan). Misalnya, cuci tangan dengan sabun, memakai masker, tidak menggunakan alat makanan yang pernah dipakai seseorang yang terkena virus corona, dll. Di sisi lain, dokter/ ilmuwan berusaha untuk mempelajari karakter virus corona lalu mencari penangkalnya. Inilah ilmu yang selalu berkembang. Bahkan, andaikan pun karakter virus corona sudah terpecahkan, bisa jadi akan muncul virus baru. Di sinilah seseorang yang mental imannya sempurna, ia pun akan berkata, Allah sangat berkuasa atas segala hal. Bukan justru memborong makanan, minuman dan masker agar bisa ‘bersembunyi’ dari terserang virus corona.

Belajar Pasrah

Orang Jawa sangat liat mentalnya. Mereka pernah hidup di masa kerajaan yang bisa jadi, mereka tidak sebahagia hari ini. Atau 350 tahun di jajah Belanda. Tokh demikian, orang Jawa tetap menurunkan keturunannya. Dalam ‘penderitaannya’ orang Jawa memiliki anak lebih dari dua. Makanya, jika dikatakan orang Jawa yang ‘terjajah’ oleh kerajaan atau Belanda, di sisi lain nyatanya anak mereka banyak. Sampai ada kalimat sakti orang Jawa, akeh anak akeh rejeki (banyak anak banyak rejeki). Kesadaran untuk terus menurunkan keturunan dengan jumlah yang banyak tentu bukan sekedar alasan ‘kenikmatan seks’ belaka. Tetapi lebih jauh, untuk meneruskan sejarah orangtuanya.

Dalam ‘penjajahan’ orang Jawa pasrah kepada Allah atas segala kondisi. Katakanlah mereka berusaha melawan penjajah hanya semacam ikhtiar belaka. Mengapa? Karena mereka sadar, ikhtiarnya tak sebanding apa yang dimiliki musuh. Bayangkan, hanya bersenjata bambu runcing, celurit, parang, keris, dll. melawat senjata api laras panjang, bom, granat, teng, dll. Senjata api dapat digunakan untuk menembang seseorang jarang 100 M minimal, sedangkan celurit / kering panjangnya 50 Cm atau bambu runcing 2 M. Apakah senjata yang panjangnya 50 – 200 Cm dapat melawan senjata yang jangkauannya sampai 100 M? Tetapi karena ada prinsip bahwa kebatilan / kemungkaran dapat dikalahkan dengan doa.

Kepasrahan orang Jawa atas pengalaman kehidupan dan spiritual melahirkan sikap atas segala sesuatu dengan penuh keyakinan, seperti: obah mamah (seseorang yang mau bergerak / kerja, ia akan mendapat rizki), alon-alon waton kelakon (pelan, tapi pasti wujudnya), mangan ora mangan kumpul (makan tidak makan, yang penting kumpul damai). Semua untuk ‘mengatasi’ kondisi yang tak pasti dan yang mengetahui hanya Allah semata.

Mbah Marijan, menurut orang-orang diluar tradisi Gunung Merapi adalah sebuah kebodohan dan cenderung ‘bunuh diri’, tetapi bagi Mbah Marijan itu adalah sebuah kepasrahan atas titah Allah. Mbah Marijan sujud dalam sebuah kepasrahan total kepada Allah. dan tentu kita tidak tahu apa yang ada dalam alam fikir Mbah Marijan. Kita hanya bisa berdoa semoga khusnul khotimah.

Akhirnya, virus corona atau pun virus-virus yang akan hadir pasca virus corona perlu dihadapi dengan mental keimanan yang kuat. Disisi lain dokter/ilmuan memiliki kewajiba memecahkan misteri karakter virus corona. Bismillah.