Bg

Berita - IAIN Surakarta

Menjaga Kesehatan Jiwa Di Saat Corona Melanda

21 Maret 2020

Menjaga Kesehatan Jiwa Di Saat Corona Melanda
Oleh : Ahmad Saifuddin, M.Psi

Sejak akhir tahun 2019, berita dan pikiran kita dipenuhi oleh penyakit atau wabah yang dengan cepat melanda, yaitu Corona. Terlebih lagi ketika Indonesia menemukan kasus pertama dan kasus kedua Corona papda akhir bulan Februari 2020 lalu. Sejak ditemukannya kasus pertama dan kedua tersebut, kasus pengidap Corona semakin bertambah. Hingga tanggal 20 Maret 2020, kasus Corona di Indonesia sudah tembus angka 369 kasus, 32 meninggal, dan 17 berhasil sembuh. Pemerintah Indonesia tidak menerapkan isolasi total yang sering disebut lockdown. Meskipun demikian, pemerintah Indonesia mendorong masyarakat untuk melakukan isolasi mandiri, tidak mengadakan pertemuan skala besar, menghindari perkumpulan, menjaga kebersihan, rajin cuci tangan dan olahraga, memasak daging hingga matang, menghindari kontak fisik, serta menghindari bepergian.
Corona pada dasarnya bukan hal baru dalam dunia kesehatan. Beberapa waktu lalu, pernah ada penyakit yang juga disebabkan oleh virus ini, yaitu SARS dan MERS. Akan tetapi, kali ini virus tersebut mengalami mutasi dan menyebabkan penyakit dengan gejala yang berbeda dengan SARS dan MERS. Sehingga, Corona yang sedang melanda saat ini dinamakan dengan Covid-19 (Corona Virus Disease – muncul tahun 2019). Himbauan untuk menjaga kesehatan fisik agar terhindar virus Corona sudah banyak dilakukan. Namun, hal penting yang sering kali luput dari perhatian adalah kondisi mental di saat virus melanda.
Terdapat beberapa kasus terkait ini. Pertama, kepanikan. Apakah kita tidak boleh panik? Dalam sudut pandang psikologi, panik merupakan respons kejiwaan yang wajar. Terlebih lagi, Covid-19 sudah ditetapkan oleh PBB sebagai pandemi, yaitu suatu wabah yang menyebar di berbagai daerah dalam kurun waktu yang bersamaan dan bersifat global. Status pandemi tersebut merupakan status tertinggi suatu wabah dalam dunia kesehatan, melebih endemi dan epidemi. Maka, sangat wajar jika kita panik. Lantas, apakah panik adalah respons yang buruk? Tidak selalu. Panik menjadi buruk jika penyalurannya atau aktualisasinya menjadikan seseorang berperilaku maladaptif atau merusak. Misalkan, menjadi panic buying (memborong berbagai kebutuhan pokok), memborong hand sanitizer, memborong masker, menyebarkan hoaks, dan menciptakan berbagai narasi yang tidak tepat. Dalam psikologi, setiap emosi negatif tidak selalu berakhir pada perilaku maladaptif. Emosi negatif dapat dijadikan energi untuk menjadikan seseorang berperilaku adaptif. Menurut Sigmund Freud, mekanisme ini dinamakan sublimasi, yaitu mengubah dorongan primitif menjadi perilaku yang dapat diterima. Maka, jika kita panik, maka kelola kepanikan kita, dan gunakan untuk menciptakan kewaspadaan individu dan sosial, gunakan untuk membantu pemerintah guna menanggulangi virus ini secara proporsional dan tepat, gunakan untuk mengedukasi masyarakat yang belum memahami soal virus ini.
Kedua, narasi keagamaan. Fenomena Covid-19 banyak ditunggangi narasi keagamaan. Misalkan, himbauan pemerintah untuk tidak melakukan ibadah berjamaah di tempat ibadah sehingga diganti beribadah di rumah masing-masing. Banyak yang menentang keputusan tersebut dan berkata tidak takut terhadap Covid-19. Himbauan tersebut bukan soal takut atau tidak takut. Akan tetapi, melaksanakan himbauan tersebut berkaitan dengan menciptakan rasa aman, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Menurut Abraham Maslow, rasa aman merupakan kebutuhan mendasar setelah tercukupinya kebutuhan fisiologis. Dalam kaitannya dengan Covid-19, kalaupun kita merasa tidak takut terhadap Covid-19 dan memaksa untuk mengadakan kontak fisik dengan orang lain, maka sikap tersebut berpotensi menciptakan rasa tidak aman bagi orang lain. Ingat, Covid-19 bukan hanya menempel di tubuh, tetapi juga bisa menempel di baju, tas, dan perlengkapan lain yang ada di tubuh kita. Jadi, jika ada yang beralasan bahwa umat Islam sering berwudu dan bisa menghilangkan Covid-19, itu kurang tepat. Covid-19 bisa menempel di baju dan menulari orang lain. Selain itu, rasa aman orang lain juga perlu diwujudkan dalam hal informasi. Dengan demikian, tidak perlu menciptakan narasi tandingan Covid-19, bahwa Covid-19 tidak seberapa dibanding dosa jika meninggalkan ibadah berjamaah. Narasi semacam ini justru akan memunculkan rasa tidak aman dari dosa dan menyebabkan kecemasan semakin tinggi. Dalam suasana semacam ini, rasa aman juga perlu diciptakan dengan menyebarkan informasi yang edukatif terkait Covid-19.
Ketiga, menjaga kesehatan mental di tengah isolasi mandiri. Kita mungkin akan mengalami kebosanan ketika aktivitas kita dibatasi akibat adanya isolasi mandiri. Sesuai tips yang dibagikan oleh CPMH (Center for Public Mental Health) Fakultas Psikologi UGM, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental di tengah isolasi mandiri. Yaitu, menyusun aktivitas yang dapat dilakukan selama social distancing, atau sesuai dengan capaian kerja bagi yang bekerja dari rumah; membangun literasi yang baik dengan menghindari berita atau rumor yang tidak jelas; aktif secara fisik dengan tetap berolahraga ringan di dalam rumah atau halaman rumah; melakukan pekerjaan rumah tangga agar tubuh tetap bergerak; menjaga kesehatan fisik dengan makan makanan bergizi, minum vitamin, dan istirahat yang cukup; tetap terhubung dengan orang lain melalui media teknologi yang dapat digunakan; mempertahankan pikiran dan harapan positif; beribadah dan berdoa; serta memfokuskan pikiran pada hal yang masih dapat kita kontrol. Selain itu,variasi aktivitas di setiap hari juga penting untuk menghindari kebosanan. Di sisi lain, setiap anggota keluarga perlu memberikan dukungan dengan mencairkan suasana. Akan tetapi, perlu dihindari untuk tidak menggunakan Covid-19 dan situasi yang ditimbulkannya sebagai bahan candaan. Kita seharusnya berempati kepada mereka yang terinfeksi.
Keempat, ada seseorang yang sulit untuk diajak kerjasama. Terdapat sebagian orang yang masih menganggap Covid-19 sebagai hal yang remeh. Hal ini berkaitan dengan pola berpikirnya. Maka, kita harus dapat mengubah pola berpikirnya. Pola berpikirnya belum tentu bertumpu pada data faktual, bisa jadi hanya berasal dari asumsi pribadi. Maka, untuk mengubahnya kita dapat menyajikan berbagai informasi faktual tentang Covid-19, misalkan mudahnya Covid-19 untuk tertular meski rasio kematiannya relatif kecil, dampak terbesar Covid-19 adalah kematian dan itu bisa menimpa siapa saja; manfaat yang diperolehnya jika ia berkontribusi dalam antisipasi dan pencegahan; dampak negatif yang bisa dihindari jika ia aktif dalam antisipasi dan pencegahan; serta betapa mudah dan murah untuk melakukan antisipasi dan pencegahan dibanding jika kita terinfeksi virus Covid-19. Selain itu, tokoh-tokoh penting juga hendaknya dapat menjadi contoh. Dalam hal ini, akan terjadi proses belajar sosial seperti yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Bahwa manusia berubah bisa dengan cara pemodelan.
Kelima, multifaktor. Dalam kajian psikologi, setiap abnormalitas disebabkan oleh banyak faktor. Bahkan, satu abnormalitas yang diidap oleh dua orang bisa jadi disebabkan dua faktor berbeda. Atau, dalam satu abnormalitas tidak ada faktor yang dominan. Cara pandang semacam ini dapat kita terapkan dalam menghadapi Covid-19 sehingga memunculkan perilaku yang komprehensif. Misalkan, menjaga kesehatan mental karena kesehatan mental berdampak pada kekebalan tubuh, mempraktikkan upaya-upaya fisik (menjaga kesehatan fisik, menjaga kebersihan, isolasi mandiri), memberikan dukungan sosial kepada masyarakat untuk bersama menanggulangi Covid-19, serta meningkatkan spiritualitas dan religiositas kita dalam upaya ini (meningkatkan ketawakalan, mengurangi stres dengan berzikir). Tidak perlu membenturkan antara penanganan secara sains dan religi, tidak perlu juga bersikap parsial. Justru akan sangat bagus jika kita mengintegrasikannya.