Bg

Berita - IAIN Surakarta

FUD Selenggarakan Pelatihan Menulis bagi Santri Pesma Al-Musthofa

12 September 2020

Boyolali – Guna tetap aktif di masa pandemi, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IAIN Surakarta mengadakan kegiatan pelatihan menulis bagi para santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Musthofa, Ngeboran, Sawit, Boyolali. Kegiatan bertajuk “Aktif dan Inovatif Melalui Tulisan di Masa Pandemi” ini dilaksanakan pada Jumat (11/9) dan diikuti oleh seluruh santri yang mondok di Ponpes Al-Musthofa.
Turut hadir dalam acara, perwakilan Dekanat FUD, Dr. H. Kholilurrohman, M.Si. Bertindak sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, pihaknya menyampaikan mengenai esensi berkarya melalui tulisan. Menurutnya, masa pandemi seharusnya tidak menyurutkan semangat para santri mahasiswa untuk menghasilkan karya tulisan yang inovatif.
“Flashback ke sejarah Islam, maka tradisi menulis sebenarnya telah digagas dan banyak dicontohkan oleh para cendekiawan muslim. Mereka mengabadikan eksistensinya melalui karya tulis berbasis ilmu yang digeluti. Terkait kondisi mahasiswa dan santri saat ini, diharapkan mereka mampu mengasah ilmu pengetahuan agar terus berkembang,” jelasnya.
Kegiatan pelatihan disambut hangat oleh Pengasuh Ponpes, KH. Raden Muhammad Yasin. Kiai Yasin dalam sambutannya, menyatakan bahwa pihaknya berterima kasih atas kerja sama yang telah terjalin dengan FUD IAIN Surakarta sehingga dapat diberikan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan yang bermanfaat bagi para santrinya.
Materi dalam acara inti pelatihan disampaikan secara langsung oleh Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi, salah seorang pengajar di Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Diawali dengan pemutaran video pendek mengenai maraknya teori konspirasi selama pandemi Covid-19, Rhesa mengajak para santri untuk lebih berpikir kritis mengenai fenomena apa yang selanjutnya dapat ditangkap dalam kehidupan sehari-hari.
Rhesa dalam isiannya memaparkan bagaimana kita harus mengenal dan paham tentang kecenderungan serta cara kerja di media massa. Selain itu, menurut Rhesa, media massa saat ini turut berlomba untuk mendapatkan pasar dan bersaing dalam pusaran industri media sehingga banyak media massa yang harus bertransformasi menjadi media massa berbasis online (digital), maupun melakukan konvergensi dengan sejumlah platform dan jenis media lainnya.
Rhesa menjelaskan bahwa para santri saat ini adalah bagian dari generasi Z dan milenial yang dekat dengan perkembangan teknologi dan tidak asing dengan penggunaan gawai. Menurutnya, para santri harus mampu mengikuti perkembangan zaman, sekaligus menangkap fenomena apa yang berbeda, unik, dan menarik dalam kehidupan sehari-hari, lalu menuangkannya pada tulisan esai. Dalam hal ini, esai dipaparkan Rhesa sebagai tulisan yang tidak hanya bersifat analitik saja, melainkan juga harus solutif dan memikirkan resolusi dari permasalahan yang diangkat.
“Paling tidak ada 3 hal yang harus digarisbawahi dalam menulis di media massa. Pertama, memahami 5W+1H sebagai substansi inti tulisan. Kedua, paham dengan kecenderungan dan tipikal media yang dituju. Ketiga, gunakan bahasa penulisan sesuai dengan dengan kaidah yang ditentukan,” jelas Rhesa.
Pelatihan ditutup dengan meminta kepada para santri untuk menulis tentang isu apa yang ingin diangkat dan dianalisis dalam esai yang nantinya akan dibuat. Para santri selanjutnya juga menyampaikan kegelisahan dan kerangka konsep dalam rujukan esai mereka. (RHS)